Tampilkan postingan dengan label Maillist Tetangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maillist Tetangga. Tampilkan semua postingan

Jembatan Maaf

Jembatan Maaf

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.


Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang."

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."
readmore »»  

Tatapan Cinta

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur? kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.


Sekarang, beralihlah ke ibu anda.Hmm....kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai - belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomelin kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu....ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat...semuanya orang - orang yang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang - orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah- wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata : " Betapa lelahnya aku hari ini" dan menyebab lelah itu ?.......juga untuk siapa dia berlelah - lelah?
Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari - hari suka dan duka bersama kita.

Renungan untuk kita semua.....
Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah - wajah mereka.....rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua........... bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang - orang terkasih itu tak membuka matanya.....selamanya!"
 --------------
readmore »»  

Gadis Kecil Pecinta Kupu-kupu

Gadis Kecil Pecinta Kupu-kupu

“Aku merindukan kupu-kupu,” Kata Mirah pada Atma. “Kalau engkau baik padanya, kalau ia menyukaimu, ia akan hinggap dengan lembut dan tersemat di dadamu”
“Mengapa kupu-kupu ?”
“Karena ia masa kecilku.”

Senja. Angin Menoreh menyusup ke lembah-lembah. Bocah-bocah Menoreh mulai menaikkan layang-layang mereka satu demi satu ke angkasa. Mereka beruntung, para Penunggu Angin yang menghuni bebatuan besar di puncak-puncak pegunungan itu mengutus anak-anak angin untuk menemani mereka bermain-main dengan kemudaan dan cuaca.


Dan anak-anak angin pula yang merasuki orang-orang tiap kali sinden dan wiraswara pertunjukan dusun menyanyikan kidungan rakyat menyeru nama-nama mereka yang purba . Maka para penari pun lantas larut ke dalam tepukan kendang hingga pagi tiba. Hanya air kembang, sesajian, dan sang empu yang mampu mengikat mereka dalam arena keteraturan. Anak-anak angin mengisi bebatuan, pohon-pohon dan sendang-sendang. Anak-anak angin merapat di batu, di pohon, dan menjadi sahabat setiap bocah-bocah dusun. Mereka bercanda dan bercengkrama tiap kali bocah-bocah itu mencebur diri dalam hijau air sendang atau berloncatan di sela-sela bebatuan dan pohonan, laksana kera-kera yang dengan nakal seringkali turun mengganggu tanaman warga dusun-dusun Menoreh Utara.

Menoreh adalah ibu setiap kanak yang terlahir, dan Para Penunggu Angin yang dengan arif mengirim kidung kehidupan lewat nyanyi daun-daun ibarat Bapa bagi bocah-bocah ingusan itu.

Dan dari anak-anak Menoreh, lahirlah seorang Mirah. Dan Mirah cinta pada kupu-kupu, sebab kupu-kupu yang pertama mengenalinya sebagai seorang sahabat yang hangat dan penuh asih. Dulu, ketika ia belum mengenali cinta pada siapa saja, seekor kupu-kupu besar dengan sayap koyaknya terkulai tanpa daya jatuh ke pangkuannya, menjadi isyarat pembuka tentang hidup dan pusaran makna-makna.

Tapi menyematkan seekor kupu-kupu gajah di dada tentu bukan hiasan yang manis buat siapa saja.
“Ia terlalu besar untuk sebuah bros” tutur ibunya.
Kata-kata yang terdengar menyakitkan buat Mirah kecil, yang tak pernah mengijinkan apa dan siapa saja hinggap di dadanya, bahkan bagi Rofik, yang sejak kanak-kanak selalu dibayangkan Mirah sebagai kekasihnya. Kalau toh kini ia mengijinkan kepala Atma merapat ke dada dan pangkuannya, itu lantaran kini ia telah menemukan cinta yang lebih kuat dari kupu-kupu, walau mungkin tak lebih agung dari itu.

“Aku tak membandingkan cintamu dengan seekor kupu-kupu. Tapi kupu-kupu tak pernah meminta, ia hanya menyerahkan dirinya, dan begitulah kau akan mengenalinya sebagai hidup dan berharga.” Kata Mirah perlahan sambil mengusap rambut Atma di pangkuannya. Teduh rumpun bambu menyejukkan mereka, sekalipun masing-masing dari daun-daunnya menyimpan takjub mencemburu.
“Aku tak menuntut apa-apa darimu, aku hanya mencintaimu. Sekalipun cinta adalah sebuah kata-kata baru bagiku. Sebab aku hanyalah seorang murid dalam hal ini. Sebagai misteri ia terlalu agung bagiku, sebagaimana secara fisik, ia terasa teramat memuakkan. Dan aku belum lagi berani bercinta. Ajari aku dengan cinta kupu-kupumu.”
Mirah dan Atma menatap sahabat-sahabat mereka memainkan layang-layang di langit-langit Dusun Klonthangan. Angin dari puncak Watu Adeg menyusup ke rumpun-rumpun bambu, mengggoyang topeng-topeng barongan di rumah Kang Amin.
“Barate teka !” Seru Muhfid menunjuk ke pucuk-pucuk pohon di puncak-puncak bukit yang bergoyangan ditiup angin. Bocah-bocah yang menanti di jalanan dusun pun berlarian menarik layang-layangnya. Layang-layang bergoyangan naik meniti angin. Sendaren mulai berdengungan.
“Kupu-kupuku lincah seperti layang-layang itu. Tapi ia tidak berdengung, ia menyanyikan lagu kehidupanku.”
“Cintaku akan mengidungkan lagu-lagu bagi jiwamu.”
Daun-daun bambu gemerisik membincangkan mereka. Lalu mendadak mereka kehilangan kata-kata.

---oOo---

Cinta di sebuah kuliah lapangan memang bukan cinta yang bisa dipercaya. Ketika batas budaya, batas tradisi menjadi penghalang, hanya para pemberani yang mampu melibas jalan tualangnya sendiri. Mirah dan Atma memang bukan orang-orang penakut, namun penghormatan pada leluhur dan bumi kelahiran membuat mereka memutuskan untuk tidak pernah bersatu. Tapi hari-hari ini adalah hari-hari saat keduanya mencoba menghidupi cinta dan setia, meski di hati masing-masing tahu, betapa itu semua tak mungkin terus terjadi. Toh cinta tak pernah menunggu masa depan. Sesungguhnya, ia bahkan tak pernah sama sekali mempersoalkannya. Untuk hal ini, mereka tak butuh tahu betapa pengalaman mencintai dan dicintai tak pernah menjadi pengalaman yang sia-sia. Mereka kini hanya ingin melewatkannya. Ya. Kalau mereka tak boleh berharap apa-apa, toh mereka masih bisa mencipta bersama kenangan-kenangan singkat. Barangkali kelak, jika jiwa mereka letih dan merindukan seorang kekasih, mereka bisa sejenak membaringkan diri di dalamnya. Memanjakan diri pada sebuah masa lalu.
Maka mereka mencoba merekam sebanyak mungkin dari peristiwa : menciumi aroma rumput-rumput basah yang baru saja disabit bagi ternak-ternak, menyusuri jalan-jalan tangga di sela-sela rumah bambu, menyapa setiap pepohonan, memainkan layang-layang, merajang tembakau, hingga bermain-main di kolam ikan, tempat separo warga dusun membuang hajat ketika perut mereka memanggilnya.
“Marilah kita mencoba membayangkan untuk sebuah yang tiada akhir.” Kata Atma pada suatu hari.
Tapi Mirah pura-pura tak mengerti. Ia tahu pasti kapan ia harus pura-pura tak mengerti, agar hari-hari mereka tak perlu terusik rasa sakit yang tak berguna itu.
“Mengapa engkau suka membangkitkan rasa sakit dalam dirimu, Atma ? Bukankah indah untuk tidak memikirkannya ?”
Mereka tahu itu. Ketika cinta tak boleh punya masa depan, biarkan ia menguasai sepenuhnya kekinian.
“Kamu tak mengerti. Kita sama sekali tak bisa menawar, maka ini semua akan menjadi sangat indah kalau kita bangun dan melawan.”
“Engkau masokhis.”
“Bukan. Aku idealis.”
“Engkau melakukannya bagi dirimu sendiri, dalam ruang batinmu sendiri. Sesuatu yang melulu beredar di kepala tak pernah menjadi perjuangan yang sesungguhnya.”
“Karenanya aku menariknya ke ruang kita. Ke beranda, agar masing-masing dari kita bisa menatap dan membincangkannya.”
“Engkau menarikku ke dalamnya. Engkau memaksaku.”
“Tidak, tidak Mirah. Aku ingin berbagi denganmu. Ya segala sesuatunya, juga ketakutan-ketakutan akan apa yang pasti akan terjadi.”
“Engkau hanya ingin memaksaku masuk ke dalam permainanmu. Ke dalam kegemaranmu menyakiti dirimu sendiri. Engkau begitu egois, Atma. Egois.”
Atma terdiam.
“Aku tidak tahu, Mirah. Aku tidak tahu.”
Bunga-bunga semak di pinggir jalan, adakah engkau mempunyai sebuah nyanyian ? Serukan ke dalam hati-hati kami agar kami tak lagi sepi.

---oOo---

Tapi cuaca menjadikan leher-leher bunga itu kering dan serak, tak mampu bersuara. Maka jadilah sepi itu. Tak ada suara, apa lagi lagu-lagu. Lalu Mirah pun bertutur tentang kupu-kupu.
“Suatu hari kupu-kupu lucu itu hinggap dengan lincah di telapak tanganku. Ia menatap manja mesra langsung ke mataku. ‘Aku punya sebuah kisah untukmu’ katanya dengan keriangan ajaib yang tak pernah kujumpai sebelumnya. ‘Ayo ceritakanlah padaku’ kataku. Tapi ia terus tertawa-tawa. Ia tiba-tiba terbang dan terus menarikku. Ia melesat menyusup di sela-sela pohon tembakau, melintasi sawah-sawah, pematang-pematang, dan pohonan kelapa. Ia terbang berloncatan dari bunga ke bunga. Tinggal pada yang satu untuk mencecap madu-madu, hinggap pada yang lain dan menggoyangkan kelopak-kelopaknya dalam keceriaan yang suci.. Daun, pohon, kayu, tanah, air, ranting, awan, juga matahari terus bergerak dalam kidung masmur keabadian. Dan kupu-kupuku terus menari. Ketika ia mengepakkan sayap-sayap kuningnya, serbuk-serbuk sari yang melekat pada tubuhnya terburai dalam angin. Kini angin menarikan penciptaan itu, melahirkan citra-citra ajaib dari butiran-butiran serbuk sari yang mempercayakan diri padanya. Angin membelai daun-daun, yang lalu tersipu malu, dan menggoyang-goyangkan dirinya dengan gembira. Kegembiraan dan spontanitas memberi keberanian pada kanak-kanak embun yang semula mesra merangkul ibu daun-daun untuk menjalani sendiri tualangnya. Maka berluncuranlah mereka di helaian daun, -sedikit takut-takut ketika tiba di ujungnya- untuk kemudian meloncat dengan bebas merdeka ke jutaan sahabat mereka di kolam dan sendang-sendang Klonthangan. Sorak sorai menyambut kebebasan baru yang kini mereka miliki. Gelombang-gelombang keceriaan yang suci terus berpendaran di muka sendang. Kegembiraan pun perlahan mengendap sebagai syukur, segala sesuatunya begitu jernih, segar, dan indah dalam kearifan hidup yang dalam. Ketika cinta itu utuh terlukiskan, tak ada lagi kata. Tak ada lagi bahasa.”
“Tapi tiba-tiba saja kupu-kupuku jatuh terduduk dengan letih. Air mata mengalir dari pipinya. ‘Maafkan aku, maafkan aku, sobat. Aku tak bisa berkisah padamu. Kisahku hanyalah sebuah perjalanan. Aku tak bisa berbagi dengan padamu. Aku sendiri bahkan tak menemukan puisi itu lagi ketika aku mencoba meloncati bunga-bunga yang sama, daun-daun yang sama saat aku pertama mengalaminya. Maaf kalau engkau tidak mengerti’ kata kupu-kupuku.”
“ ‘Aku mengerti’. Kataku. ‘Aku mengerti sepenuhnya, aku mendengar semua kisahmu dari kegembiraan di wajahmu. Kegembiraanmu abadi. Engkau kupu-kupu sufi’.”
Dan Atma makin mencintai Mirah.

---oOo---

Dan semakin cinta itu merasuk ke dalam, semakin ia terasa menyakitkan. Hingga mereka memutuskan untuk saling tak bertegur sapa.
Tapi ketika hari itu tiba, seekor kupu-kupu tiba-tiba hinggap di jendela kamar Atma.
“Apakah aku mengenalmu kupu-kupu ? Jika engkau benar cinta Mirahku, engkau tak bisa berkata-kata. Kata-katamu tak pernah sepenuhnya ada. Aku tahu ini semua. Engkau hanya bisa berkata-kata lewat batinnya. Engkau kata-kata dari kearifannya. Hatiku tak cukup mengerti bahasamu, mengartikan satu demi satu pesan cinta dalam perbincangan bersama seekor kupu-kupu, bagiku terasa begitu konyol dan lucu.”
Atma terkejut dengan kata-kata yang meluncur dari hatinya. Apakah ia merasa cemburu ? Ego seorang lelaki yang takluk oleh kupu-kupu ?
“Aku bukan kupu-kupu Mirah. Aku kupu-kupu dari batinmu. Sebab itulah aku bisa berbicara kepadamu, karena aku berbincang dari bahasamu, dari tiap-tiap kata yang terucap lewat lidah batinmu.”

---oOo---

Tak seperti biasanya, pagi itu Para Penunggu Angin mengirimkan kera-kera putih. Mereka lincah berloncatan dari dahan ke dahan. Keluar dari pertapaan-pertapaan ajaib di puncak-puncak bebatuan Menoreh.
Kera putih telah menyebar ke seluruh wilayah dusun Klonthangan, kera putih berburu musuh abadinya. Tapi Atma bukanlah Rahwana yang menculik Sinta. Ia adalah seorang yang kepadanya Mirah mempercayakan seluruh hidupnya. Bahwa kemudian kehidupan itu sendiri yang menolak meronta dan memutuskan sendiri jalan hidupnya, itu perkara lain.
“Kera itu akan mengawal engkau dan kupu-kupumu, Atma. Biarlah ia menjadi suara jiwamu. Dan kupu-kupu, adalah sahabat tualangmu.”
“Maafkan aku, Mirah. Aku tak bisa memberi sayap pada cintamu. Bahkan aku tak bisa membuatnya bagi diriku sendiri. Aku bukan Rahwana yang bisa menculik dirimu bagi hatiku. Sebab hatiku sendiri tak lagi kumiliki, kutukarkan ia dengan kupu-kupu bagi jiwaku.”

Maillist From.

Ineke.
readmore »»  

Sandal Jepit Isteriku

Sandal Jepit Isteriku


Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.

"Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalu saja, kalau tak keasinan... kemanisan, kalau tak keaseman... ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar bi..., rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul...? " ucap isteriku kalem. "Iya... tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini...!" Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.



Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput?jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku. Namun apa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu.

"Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...," batinku berkata dalam hati. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis.

"Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

"Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.

"Lho, kok bilang gitu...?" "Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak? Desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu.

Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.

"Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" Tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan aku Maryam," pinta hatiku. "Krek...," suara pintu terdengar dibuka.

Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!

"Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Abi...!" bisiknya pelan dan girang.

Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu...,"ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku...?
readmore »»  

Istighfar

Seandainya salah seorang manusia berusaha mencatat kesalahan dan dosa yang dilakukannya pada tiap hari yang ia lewati, sejak bangun tidur hingga ke tidur lagi –baik dilakukan sendiri maupun dengan perantara orang lain— maka tentunya ia akan menemukan kesalahan atau dosa yang tak terhitung jumlahnya. Para malaikat penjaga diberi tugas khusus oleh Allah swt untuk mencatat setiap amal perbuatan manusia, niat yang terbersit dalam hati, maupun lafaz yang terucap. Allah swt menegaskan hal itu di dalam Al-Qur'an:

"Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 82:10-12)


Dalam satu riwayat dikatakan bahwa tidak ada ada satu majelis pun yang diduduki seseorang dan jamaahnya melainkan ia telah berbicara sia-sia dan berbuat dosa, kecuali majelis zikir dan majelis ilmu. Rasulullah saw membimbing umat manusia bagaimana caranya 'menghapuskan' dosa-dosa tersebut, terutama ketika ia berada dalam satu majelis, forum diskusi, atau media pertemuan lainnya. Maka umat Islam dianjurkan untuk membaca doa yang disebut dengan "Doa kifarat majlis."

Rasulullah saw juga menuntun umat Islam agar memperbanyak istighfar, mengamalkannya secara kontinu agar terhindar dari kesusahan dan melapangkan rezeki.

"Barangsiapa membiasakan istighfar maka Allah menjadikan jalan keluar dari segala kesulitannya, memberi kemudahan dari segala kesusahannya dan melapangkan rezeki yang tidak ia duga." (HR Abu Daud).

Rasulullah saw sendiri selalu beristighfar dan mengamalkannya terus menerus kendatipun Allah swt sudah mengampuni dosanya baik yang telah lalu maupun yang terkemudian. Bahkan dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah memohon ampun kepada Allah 70 kali setiap harinya.

Seorang Mukmin yang baik senantiasa menyerahkan urusannya kepada Allah apakah permohonannya dikabulkan ataukah tidak, karena Allah swt maha berkehendak. Mukmin yang solih juga wajib menyerahkan segalanya kepada Allah swt semata perihal pengampunan Allah atas hamba-hamba-Nya jangan sampai ia beranggapan bahwa dirinyalah yang hanya diampuni sementara orang lain tidak. Seseorang tercatat sebagai pendosa ataukah sudah melewati penghapusan dosa, itu merupakan hak preoregatif Allah swt semata yang tak seorangpun memilikinya.

Suatu hari seorang laki-laki berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si Fulan." Allah swt berfirman, "Siapa yang bersumpah kepada-Ku bahwa Aku tidak mengampuni dosa si Fulan, maka sesungguhnya Aku telah mengampuni si Fulan dan menghapuskan amal perbuatanmu."

Manakala umat Islam memohon ampun di setiap waktu dan keadaan, dan secara khusus beristighfar di setiap akhir shalat, namun ada pula yang justeru menempuh cara istimewa yaitu dengan memohon ampun di sepertiga malam terakhir dan di waktu menjelang fajar, karena waktu tersebut lebih dekat dikabulkannya doa. "...dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)..." (Qs. 51: 18)

Sebagaimana terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

"Tiap malam Allah swt turun ke langit dunia hingga sepertiga malam terakhir dan berfirman: barangsiapa yang berdoa maka Aku mengabulkannya, barangsiapa yang meminta maka Aku akan memberinya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya."
readmore »»  

Menjaga Lidah

Banyak hadis Rasulullah SAW yang menyuruh manusia berhati-hati terhadap lidah. Beliau bersabda, ''Barangsiapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.'' (Muttafaq 'alaihi dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih). Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan.

Imam Al-Ghazali telah menghitung ada dua puluh bencana karena lidah, antara lain, berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, bersaksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina mereka, dan sebagainya. Bahkan, Syekh Abdul Ghani An Nablisi menghitung bencana lidah ini sampai tujuh puluh dua macam yang disebutkan secara rinci.


Perlu kita ingat bahwa orang yang banyak berbicara akan banyak berbuat kesalahan. Pembicaraannya sering merambah ke mana-mana sehingga tak jarang menjadi ghibah, yakni menceritakan cela orang lain. Karena itu, dalam hadis tersebut sangat jelas bahwa keselamatan itu terletak pada sikap diam. Tetapi, diamnya itu tidak berarti bahwa manusia harus mengunci mulutnya agar tidak berbicara sama sekali, melainkan seorang itu hendaknya hanya berkata yang baik-baik saja serta yang diridhai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ''Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.'' (HR Ibnu Mubarak).

Seorang penyair berkata, ''Jagalah lisanmu wahai manusia. Jangan sampai menggigitmu karena ia ular berbisa. Banyak orang yang dikubur karena dibunuh lisannya. Ia menggigit bagaikan ular berbisa.''

Umumnya manusia gemar sekali mengumbar lidahnya. Karena itu, sebagai seorang mukmin yang senantiasa merasa diawasi Allah, kita wajib mengerti bahwa perkataan itu termasuk amalan yang kelak akan dihisab. Karena pena Allah tidak mengalpakan satu pun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal.

Firman-Nya, ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat yang selalu hadir.'' (QS Qaf: 16-18).

Karena itu, barangsiapa yang mengerti bahwa ucapannya itu sama dengan amal perbuatannya, yakni akan ditulis dan dihisab, niscaya sedikitlah pembicaraannya kecuali dalam hal yang berguna, dan dengan demikian dia akan selamat. Wallahu a'lam bish shawab.
readmore »»  

Jembatan Maaf

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.


Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang."

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."
readmore »»  

Mencintai karena Allah

Membicarakan cinta tak dapat dilepaskan dengan motif dan tujuan pelakunya. Sesuai arti katanya, cinta adalah perasaan hati dalam menyenangi sesuatu. Dalam bahasa Arab, cinta sering disebut dengan kata hubb. Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya.

Cinta adalah salah satu sifat fitri (alami) yang memang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dengan cinta, manusia satu dan lainnya dapat membina hubungan dengan harmonis. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat kasih sayang. Sebanyak 99 Ia simpan untuk hamba-hamba-Nya nanti di akhirat, sedangkan satunya Ia turunkan kepada umat manusia. Dengan hanya satu rahmat inilah, manusia satu dengan yang lainnya saling mencintai.'' (HR Bukhari-Muslim).


Dengan demikian, cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia hakikatnya adalah bentuk anugerah tertinggi yang Allah SWT berikan. Itu artinya, cinta sesungguhnya harus dilandasi dengan keyakinan bahwa cinta itu adalah dari Allah SWT dan harus dimanfaatkan sepositif mungkin oleh manusia, semata-mata karena Allah. Dengan kata lain, mencintai manusia lain sebetulnya harus dilandasi sikap bahwa cintanya itu adalah karena Allah, sehingga cinta yang ditimbulkan akan selalu berada dalam jalur yang sudah Allah SWT gariskan, bukan cinta buta yang hanya memperturutkan hawa nafsu rendah. Mencintai seseorang karena Allah SWT akan mengantarkan seseorang pada satu level, di mana Allah SWT melimpahkan cinta abadi-Nya yang tak terkira.

Rasulullah SAW pernah bercerita kepada Abu Hurairah, ''Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berniat mengunjungi temannya dalam sebuah kampung. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan malaikat yang sengaja Allah turunkan untuk menanyakan tujuannya. Laki-laki itu menjawab, ia ingin mengunjungi salah satu temannya di sebuah kampung. Malaikat bertanya lagi tentang alasan kunjungan itu, apakah karena temannya itu memiliki satu jasa berharga yang harus dibalas atau tidak. Dengan tegas, laki-laki itu menjawab ia tidak memiliki alasan selain bahwa kunjungannya itu adalah karena cintanya kepada temannya, cinta yang dilandasi semata-mata karena Allah SWT. Malaikat itu akhirnya memberi tahu kepada laki-laki itu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar gembira bahwa laki-laki itu dijamin akan dicintai Allah selamanya, dengan sebab cintanya pada temannya itu.'' (HR Muslim).

Cinta sesama manusia hanya karena Allah, bukan karena alasan lain, itulah cikal bakal cinta abadi yang Allah SWT siapkan di akhirat kelak. Cinta model ini pulalah yang akan menjadi naungannya nanti di hari kiamat. Satu hari yang tidak ada naungan lagi selain naungan yang Allah berikan kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda, ''Pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berseru, 'Mana orang-orang yang saling mencintai hanya karena Aku? Pada hari kiamat yang tidak ada naungan ini, Aku akan memberikan naungan-Ku pada mereka semua'.'' (HR Muslim). Dengan cinta yang dilandasi keyakinan seperti inilah, umat manusia akan dapat mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di antara sesama. Wallahu a'lam
readmore »»  

Betapa Indahnya Salam

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR. Bukhari Muslim).

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Salam itu tak lagi terdengar sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang menjadikannya sebagai salam pembuka, mengawali teks pidato, memulai ceramah, mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar lumrah, seperti halnya selamat pagi, kulonuwun, punten, permisi….


Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal…

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Ucapan ini sudah sedemikian akrab di lidah ummat muslim. Tiada kagok orang mengucapkannya. Baik yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi.

Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia bberkata: Rasulullah Saw bersabda, ”… Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian”. (HR Muslim).

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Hingga kadang orang meremehkan. Bahkan ada yang hendak menggantikannya dengan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi ‘alaihissalaam bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. ‘Cukup’ dengan menyebarkan salam.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Betapa cinta Rasulullah dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam. Bahkan beliau pernah bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi”. (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud).

Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata, ”Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai. Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa.

Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaam Allah ‘alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta’abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku).
readmore »»  

Kalung Yang Diberkati

Jabir bin Abdullah Al-Anshari bercerita: ”Rasulullah saw melakukan shalat Ashar bersama kami. Ketika telah selesai beliau duduk di arah kiblat, dan orang-orang berada di sekitarnya. Tiba-tiba, datang seorang tua dari kalngan orang Arab yang hijrah. Ia memakai kain yang lusuh, dan hampir tidak dapat menahan diri karena tuanya dan lemahnya. Maka Rasulullah mendekatinya dan menanyakan kabarnya. Orang tua itu berkata,

“Wahai Nabi Allah, saya sedang lapar, berilah saya makan. Saya tidak berpakaian, berilah saya pakaian. Saya orang miskin, bantulah saya.”

Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Aku tidak memiliki apa-apa untukmu. Tetapi orang yang menunjukkan kepada kebaikan sama dengan orang yang melakukannya. Karena itu, pergilah ke tempat orang yang mencintai dan dirintai Allah dan Rasul-Nya dan mendahulukan Allah atas dirinya sendiri. Pergilah ke tempat Fatimah.” (Rumah Fatimah berhampiran dengan rumah pribadi Rasulullah, tempat beliau tinggal seorang diri dan terpisah dari istri-istrinya). Kemudian beliau berkata, “Wahai Bilal,bangunlah dan antarkan dia ke rumah Fatimah.”


Pergilah orang itu bersama Bilal. Ketika sampai di depan pintu Fatimah, ia menyapa dengan suara yang sangat keras, “Assalamu’alaikum, wahai Penghuni Rumah Kenabian (Ahlu Bait An-Nubuwwah).”

“Alaikas-salam. Salam Anda?” tanya Fatimah.

Yang ditanya menjawab, “Saya seorang Arab yang sudah tua. Saya telah menghadap ayahmu, pemimpin yang memberi kabar gembira, karena suatu kesulitan. Wahai Putri Muhammad, saya tidak mempunyai pakaian dan dalam keadaan lapar. Maka tolonglah aku, semoga Allah menyayangimu.”

Saat itu, Fatimah dan Ali, juga Rasulullah mengetahui kondisi mereka berdua. Maka Fatimah mengambil kulit domba yang telah disamak yang dipakai sebagai alas tidur oleh Hasan dan Husain, lalu ia berkata kepada orang itu,

“Ambillah ini, wahai orang yang mengetuk. Semoga Allah memberimu yang lebih baik daripada ini.”

Orang itu berkata lagi: “Wahai Putri Muhammad, aku mengadu kepadamu bahwa aku lapar, tapi kamu memberiku kulit domba. Aku tidak dapat melakukan apa-apa dengannya. Dengan apa aku menghilangkan rasa lapar?”

Ketika mendengar perkataannya itu, Fatimah mengambil kalung yang ada di lehernya yang dihadiahkan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia memutuskannya dari lehernya dan memberikannya kepada orang itu sambil berkata,

“Ambilllah ini dan juallah. Mudah-mudahan Allah akan memberikan ganti untukmu yang lebih baik daripadanya.” Orang Arab itu mengambilnya dan pergi ke masjid Rasulullah. Saat itu, Nabi sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, Fatimah telah memberiku kalung ini dan mengatakan, ‘Juallah kalung ini, mudah-mudahan Allah akan membantumu.’

Maka menangislah Nabi saw. Belaiu berkata, “Bagaimana Allah tidak akan membantumu? Kamu telah diberi oleh Fatimah putri Muhammad, pemimpin putri manusia.” Maka bangunlah Ammar bin Yasir, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengijinkan aku untuk membeli kalung ini?”

“Belilah, wahai Ammar,” Jawab Rasulullah.

“Berapa harga kalung ini, wahai orang Arab?” tanya Ammar kepada orang tua itu.

“Seharga roti dan daging yang mengenyangkan, burdah (kain) Yaman yang akan aku gunakan untuk menutupi auratku dan untuk shalat, serta uang dinar yang akan mengantarku pulang ke tempat keluargaku.” Jawab orang itu. Sebelumnya, Ammar telah menjual semua bagian yang diberikan Rasulullah dari Khaibar kepadanya dan tidak ada lagi sisanya. Ia pun berkata kepada orang itu,

“Untuk engkau 20 dinar dan 200 dirham, kain Yaman dan untaku yang dapat menyampaikanmu ke tempat keluargamu, ditambah roti dan daging yang mengenyangkanmu.”

“Alangkah pemurahnya engkau, wahai laki-laki.” Pergilah Ammar bersama orang itu, untuk melaksanakan transaksi yang telah disepakati itu. Kemudian orang itu kembali ke tempat Rasulullah.

“Apakah kamu telah kenyang dan telah mempunyai pakaian?” tanya Rasulullah kepadanya

“Ya, bahkan aku telah menjadi kaya.” Jawabnya.

Rasulullah berkata, “Berilah balasan kepada Fatimah atas apa yang telah dilakukannya."

Orang itu pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang kami tidak mencari lagi selain Engkau. Engkaulah yang memberi rizki kepada kami di setiap tempat. Ya Allah, berilah Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga.”

Nabi saw mengaminkan doanya. Beliau lalu mendatangi sahabat-sahabatnya dan berkata,

“Sesungguhnya Allah telah memberikan itu kepada Fatimah di dunia. Aku adalah ayahnya, dan tidak ada seorang pun di seluruh alam yang seperti aku. Ali suaminya; seandainya tidak ada Ali maka tidak ada yang sepadan baginya selamanya. Allah juga telah memberinya Hasan dan Husain. Tidak ada di seluruh alam yang seperti mereka berdua. Mereka adalah pemimpin cucu para nabi dan pemimpin para pemuda ahli surga.”

Ammar kemudian mengharumkan kalung yang dibelinya tadi dengan minyak musik dan membungkusnya dengan kain Yaman. Ia mempunyai seorang budak bernama Sahm, yang ia beli dengan saham (bagian) yang ia peroleh di Khaibar. Ammar memberikan kalung itu kepadanya seraya berkata,

“Ambillah kalung ini lalu berikanlah kepada Rasulullah, dan engkau pun menjadi miliknya.” Budak itu pun mengambil kalung itu. Ia membawanya kepada Rasulullah dan memberitahukan kepada beliau apa yang dikatakan Ammar.

Maka Nabi berkata kepadanya, “Pergilah ke tempat Fatimah lalu berikanlah kalung itu kepadanya, dan engkau pun menjadi miliknya.” Budak itu datang kepada Fatimah sambil membawa kalung itu dan memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Fatimah mengambil kalung itu dan memerdekana si budak. Mantan budak itu lalu tertawa.

“Apa yang membuatmu tertawa, nak?” tanya Fatimah.

Ia menjawab: “Yang membuatku tertawa adalah betapa besarnya berkah kalung ini. Ia mengenyangkan orang yang lapar, memakaikan pakaian pada orang yang tidak berpakaian, mengayakan orang miskin, memerdekakan budak dan kemudian kembali lagi ke pemiliknya.”

Demikian kisah kalung Fatimah.
Semoga membawa hikmah bagi kita semua.
readmore »»  

MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu
muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana
layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru
berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya
adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael
suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya
itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan,
terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael
dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu
buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen;
bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa
pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan
buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya
Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... aku
mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku pengen
nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami, ....aku
kepengen nyanyi!"

Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah
daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,
setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya.
Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU.
Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa
masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya...... lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring ".....You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...." Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,....terus Michael! "Teruskan sayang!" bisik ibunya...."The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands....." dan......Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi
teratur........
"I'll always love you and make you happy, if you will only stay the same......."
Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus
bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu tertidur lelap.

Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan
apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan ulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you". Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.
readmore »»  

Marahlah secara benar

<img src="marah.jpg" alt="Marahlah secara benar">
Apa pula ini? Masak marah aja ada aturannya. Emang sih kamu berhak meluapkan amarah, tapi dalam banyak situasi ada batasan-batasannya.

Misalnya, kurang menguntungkan bila kamu marah-marah di depan kelas. Bahkan meskipun kamu merasa benar dan dapat menunjukkan semua bukti dan argumen yang mendukung. Soalnya, orang lain akan cenderung berisikap defensif dan parahnya bisa berkembang pada keinginan balas dendam. Demikian dituturkan Dr. Sandra Thomas, R.N, Ph.D seorang peneliti perihal amarah dan direktur Center for Nursing Research di University of Tennese, Knoxville.

Asal tahu aja, tidak hanya etika sosial budaya menyebabkan kita kudu membatasi rasa marah tapi masalah kesehatan juga ikut berperan. "Ketika marah, tubuh kita mengalami berbagai perubahan fisiologis, karena amarah memicu reaksi melawan atau lari," kata Christopher Peterson, PhD, pengarang Health anda Optimism dan dosen psikologi di University of Michigan, Ann Harbor.


"Kadar adrenalin meningkat, jantung berdegup lebih kencang, napas memburu dan dangkal, pencernaan berhenti," imbuhnya. So, sering marah-marah bisa mengingkatkan reriko pernyakit jantung, tekanan darah tinggi dan penyakit-penyakit mematikan.

Malah dalam penelitian terakhir para dokter di Universitas of North Carolina, mereka menemukan orang yang temperamental (pemarah) memiliki tiga kali resiko terkena penyakit jantung yang akut dan fatal. Hasil ini didapat sewaktu mereka meneliti sebanyak 13 ribu orang di North Carolina selama enam tahun.

"Semua emosi mempunyai pengaruh tertentu kepada cara berpikir kita. Tapi emosi-emosi yang kuat dapat memperlambat kemampuan penalaran, kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan kita," kata Dr. Mara Julius, Sc.D, ahli ilmu epidemi psikososial di Univesity og Michigan School of Public Health yang telah lebih dari 20 tahun mempelajari cara mengatasi marah yang berpengaruh pada kesehatan laki-laki dan perempuan.

"Ketika kamu merasa marah atau terbelenggu oleh dendam, semua itu menjadi beban. Pada sebagian orang , ini memperlambat proses berpikir dan pada sebagian yang lain bakal menghentikan proses berpikir sama sekali," sambungnya.

Cara Marah yang Benar
Bila perasaan marah kamu ditangani secara benar, menurut Dr. Julius, kamu bakal terhindar dari masalah-masalah hubungan sosial dan kesehatan. So, di bawah ini adalah cara marah yang bener.

1. Cari tempat aman.
Carilah tempat "aman" untuk meluapkan marah kamu. Caranya, sebelum kamu ngomong ama orang yang bikin kamu jengkel, bicarakan dulu ama orang yang kamu percaya. Pilih teman dekat, pacar, atau seseorang yang kamu percayai untuk mengungkapkan perasaan marah Anda. Soalnya, kalau kamu nekat nglabrak malah bisa nambah masalah. Dan ujung-ujungnya kamu tambah mangkel, jengkel dll.

2. Dekati orang yang bikin kamu marah
Setelah rasa marah kamu reda, bicaralah pada orang yang menjadi "sumber masalah". Ini penting untuk membuat jernih semua permasalahan. Awali pembicaraan, misalnya dengan, " Tindakan atau perkataan kamu, mengganggu perasaanku. Ada yang kudu diluruskan dan dibicarakan. Apa kita bisa membicarakan ini dengan baik?"

3. Kenali hal-hal yang jadi penyebab kemarahan kamu.
Temukan akar masalah untuk menemukan faktor pemicunya. Pasti ada hal-hal tertentu yang biasanya mendasari reaksi marah kamu. Bila tidak berhasil, mulailah mencatat ketika reaksi-reaksi marah itu timbul dan menulis pengalaman-pengalaman amarah kamu. Cara ini bakal memberikan kamu kesempatan untuk mempelajari segala sesuatunya dan bereaksi lebih rasional. Akhirnya, kamu bakal merasa mampu mengendalikan diri dengan menghentikan konfrontasi langsung.

4. Temukan cara melepaskan diri.
Kalau kamu mudah naik darah, ada anjuran agar menggunakan energi yang meluap-luap itu secara positif. Misalnya menggunakan energi itu untuk kegiatan fisik. Seperti jogging atau olah raga lainnya. Soalnya olahraga menyalurkan adrenalin lebih positif ketimbang membiarakannya larut sendiri. Dan kamu pun dapat menjernihkan pikiran untuk sementara.

5. Atur Nafas
Ketika diselimuti kemarahan, cobalah mengulur waktu untuk menenangkan diri. Kamu bisa pergi sejenak dari situasi tersebut. Carilah tempat sepi dan lakukan semacam meditasi dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah pikiran tenang, baru kamu kemukanan apa yang ingin kamu katakan. (dari berbagai sumber)
readmore »»  

Sepucuk surat dari seorang musyrif

<img src="Surat.jpg" alt="sepucuk surat">
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki, surat seorang ayah kepada seorang ayah.

Nak, menjadi musyrif itu indah dan mulia.Besar kecemasanku menanti keberhasilanmu dihari esok. Karena aku berharap kau takkan pernah kecewa.

Nak Menjadi musyrif/guru itu mulia. Bacalah sejarah para nabi dan rasul. Dan temukanlah nasehat yangt terbaik tentang guru.

Meskipun demikian, ketahuilah nak, menjadi guru/musyrif itu berat dan sulit (terlebih saya sebagai pengganti ayah kalian).tapi kuakui, betapa sepanjang  kehadiranmu disisiku, aku seperti menemukan keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang keberadaanmu adalah salah satu masa terindah yang paling aku banggakan didepan siapapun. Bahkan dihadapan tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan-Nya, hingga detik ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kugenggam tanganmu dengan penuh semangat kuyakinkan kamu BISA. Dan aku berjanji akan selalu membantumu sekalipun kita tak akan lagi selamanya bersama.

Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata : “TIDAK“, dan “MELAWAN“ timbul kesadaranku siapa engkau sebenarnya. Engkau bukan milikku, atau milik kedua orang tuamu. Engkau milik Allah. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Allah.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan kamu. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata dihadapan Allah. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena-Nya, bukan karena aku dan orang tuamu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar kamu dikagumi dan dicintai Allah.
Inilah usahaku yang terberatku (juga usaha orang tuamu), karena artinya aku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Allah. Agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku Cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhani yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti, nak..berhenti berarti mati, inilah kata-kataku dan orang tuamu ketika memberimu semangat dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya nak.., kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihat dirimu sangat dekat dengan Allah. Aku bangga nak.., karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.

Dari musyrifmu yang selalu ingin melihatmu terseyum bahagia. Lail fi lail
readmore »»  

Hati Seorang AYah

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.


Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa
penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

readmore »»  

3 Hal

3 hal dalam hidup yang tak pernah kembali:
1. Waktu
2. Perkataan
3. Kesempatan

Kita tak bisa memutar kembali waktu, tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya dan memanfaatkan waktu yang ada, walau sebentar, untuk menciptakan kenangan yang berarti

Time is free but it’s priceless, u can’t own it but u can use it. U can’t keep it but u can spend it

Kita tak bisa menarik ucapan kasar yang keluar dari mulut kita atau statement yang telah membuat harga diri kita lebih penting dari pada menariknya kembali dan mengucapkan maaf.
Kita tak bisa menghapus caci maki yang telah kita katakan hingga membuat orang lain marah, terluka atau menangis.

Tapi kita bisa membuat apa yang selanjutnya keluar dari mulut kita menjadi lebih banyak pujian dibanding caci maki, lebih banyak syukur dan terima kasih dari pada keluhan atau komplain, dan lebih banyak nasihat positif dari pada sulutan amarah
Kita tak bisa mendapatkan kembali kesempatan yang sudah kita lewatkan.

Tapi kita bisa menciptakan peluang untuk membuat kesempatan-kesempatan lain datang dalam hidup kita dengan lebih memperhatikannya

3 hal dalam hidup yang tak boleh hilang:

1. Kehormatan
2. Kejujuran
3. Harapan

Jika kita tidak memiliki uang, dan masih memiliki kehormatan, maka bersyukurlah karena kehormatan merupakan salah satu kekayaan yang masih berharga di mata orang lain.

Jika kita telah kehilangan kehormatan dan ingin memulihkannya, maka pergunakanlah kejujuran untuk meraih kehormatan kita kembali karena orang-orang yang jujur adalah orang-orang yang terhormat.

Jika kita telah kehilangan kehormatan karena ketidakjujuran kita, milikilah harapan bahwa suatu saat mereka akan mengerti alasan dibalik semuanya. Milikilah harapan bahwa kita bisa memperbaiki kehormatan meski dengan susah payah. Milikilah harapan bahwa meski banyak orang yang takkan lagi percaya karena kita pernah melakukan hal-hal yang tidak jujur, pada waktunya nanti, mereka akan melihat sendiri upaya kita

Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu..

Karena di mana ada kemauan, di situ ada jalan

3 hal dalam hidup yang paling berharga:

1. Keluarga
2. Sahabat
3. Cinta

Kekayaan bukan soal berapa banyak uang yang anda miliki.
Kekayaan adalah apa yang masih anda miliki saat anda kehilangan semua uang anda.

Jika anda kehilangan semua uang anda, ingatlah bahwa anda masih memiliki keluarga.
Jika anda kehilangan semua keluarga anda, ingatlah bahwa anda masih memiliki sahabat.


What is the difference between blood and friend?
Blood enters the heart and flows out, but friend enters the heart and stay inside.

Jika anda kehilangan semua keluarga anda dan tak ada satu pun sahabat, maka ingatlah bahwa anda masih memiliki cinta untuk mendapatkan mereka kembali, untuk mengenang masa-masa indah bersama mereka dan untuk menciptakan persahabatan yang baru dengan kehangatan kasih yang mampu anda berikan

If love hurts, then love some more.
If love hurts some more, then love even more.
If love hurts even more, then love till its hurt no more
readmore »»  

Menutup Mata dengan Senyuman

Tahun 1983, saya masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Paman
saya datang menjemput ke sekolah dan langsung membawa saya beserta
abang dan adik-adik ke Jakarta. Sampai di rumah kakek, lautan manusia
menyesaki halaman rumah hingga ke dalam. Bendera kuning terpasang di
depan rumah, kakek menghadap Allah hari itu.

Ibu, dan semua anak-anak kakek menangis. Namun nampak terlihat jelas
seulas senyum manis dan wajah bersih berseri seolah tampak cahaya
yang memancar dari wajah sosok yang ditangisi ratusan orang yang
datang hari itu. Tidak ketinggalan anak-anak yatim yang selama ini
mendapat santunan dari kakek pun meneteskan air matanya. Bagi mereka
kakek adalah Ayah yang selama ini menggantikan peran Ayah mereka yang
sejak lama meninggalkan mereka.


Kenangan dua puluh dua tahun yang lalu itu masih sangat jelas terekam
di ingatan saya. Betapa saya yang saat itu juga ikut menangis, meski
mungkin saya hanya merasa kehilangan seseorang yang takkan lagi
mengajak saya makan roti tawar di minggu pagi, atau membelah-belah
tahu cina kesukaan kakek dan kemudian ia menyuapi cucunya satu
persatu, memandangi senyumnya dengan binar bahagia. Masih jelas
hingga detik ini senyum indah kakek, bahkan teramat detil hingga
seandainya saya mampu melukis mungkin saya akan melukiskannya dengan
sangat baik.

Tahun 1992, kakek saya dari Ayah meninggal dunia. Ia adalah tokoh
masyarakat yang sangat disegani, ia sangat ramah dan akrab dengan
warga, dan seperti namanya, Abdul Karim, ia dianggap sebagai bapak
yang mulia bagi sebagian warga. Benar, karena hampir seluruh warga
mengenalnya sebagai orang baik, dermawan. Hingga kini, peninggalannya
berupa wakaf tanah untuk masjid masih menjadi ingatan yang jelas akan
amal baiknya. Masjidnya pun diberi nama masjid Al Karim. Seperti juga
kakek saya sebelumnya, ia menutup matanya dengan indahnya senyuman.

Dari nasihat yang pernah saya dengar, Allah kerap menunjukkan
kekuasaan-Nya kepada makhluk yang masih hidup melalui orang-orang
yang meninggal. Apakah kebaikan yang diperlihatkan ataukah sisa-sisa
perbuatan buruk seseorang yang nampak pada saat sakaratul maut dan
sesudahnya. Seperti cerita Al Qomah yang sulit meninggal karena
perlakuannya terhadap ibunya, mungkin akan jadi pelajaran bagi orang-
orang yang melihatnya. Dan senyuman yang menghiasi orang-orang yang
meninggal, juga merupakan kekuasaan Allah yang hendak memperlihatkan
akhir dari orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dengan amal
shalih.

Sungguh, saat ini saya sering menangis jika menghitung-hitung betapa
miskinnya diri ini akan amal shalih. Selaut air mata siap tumpah
tatkala mengingat segunung khilaf dan dosa yang kerap tercipta bahkan
hingga detik ini. Jika demikian, adakah kemungkinan diri ini
mengakhiri perjalanan ini dengan senyuman? Mungkinkah saya menutup
mata dengan indah? Adakah orang-orang kan membincangkan kebaikan atau
keburukan saya sepeninggal saya?

Ya Allah, izinkan hamba menutup mata dengan senyuman.
readmore »»  

Bekerjalah dengan Cinta

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.
Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?
* * *
Selalu...
Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.


Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.

Layaknya hari kerja, dikemasnyasampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.
Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.

Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.

Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.

Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.
Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung...

Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran).

Wallahu a'lamu bish-shawaab.
readmore »»